Kamis, 21 Maret 2013

Mbak Juminten



Namaku Agus, 28 tahun, kisah ini terjadi 3 tahun lalu ketika aku memulai karir baru sebagai auditor di PTPN IV di kawasan perkebunan Teh di Jawa Barat.Aku tinggal seorang diri di rumah dinas mungil dan asri semi permanen di sekitar kebun. Untuk keperluan bersih2 rumah dan mencuci pakaian aku mempekerjakan seorang pembantu harian, mbak Juminten.

Wanita ini berumur 49 tahun, hitam manis, tinggi skitar 165 dan gempal. Mbak Juminten asli Solo, kemudian menikah dan ikut suami yg bekerja di perkebunan ini. 7 tahun sebelumnya suaminya wafat dan meninggalkan seorang balita perempuan berumur 5 tahun. Mbak Juminten mengontrak rumah kecil di desa sekitar perkebunan bersama ibunya yg sdh renta.Lima bulan mbak Juminten melayani keperluanku dgn baik, meski agak pendiam dan memang kami jarang bertemu kecuali di akhir minggu. Gaji yg aku berikan sebenarnya diatas pasaran, ttp mungkin karena besarnya kebutuhan beliau sesekali meminjam uang dariku. Belakangan mbak Juminten meminjam uang lebih besar dari biasanya, setelah aku tanya dgn detail akhirnya dia mengakui telah terjebak rentenir akibat kebiasanya membeli togel dan arisan.
Tidak terlalu lama mbak Juminten telah meminjam uangku lebih dari 2 jt, dan pada usahanya meminjam terakhir aku menolaknya dengan halus. Tapi pagi itu dia seperti panik, dengan meneteskan air mata beliau mencoba membujukku utk memberinya pinjaman sekitar 1,5 jt utk menutupi tuntutan hutang dari bandar judi togel di desa. Aku kembali menolak dengan tegas, dan mbak juminten kembali menangis dgn terharu biru.
Aku memperhatikan wanita paruh baya ini dgn seksama, wajahnya seperti kbanyakan wanita jawa pada umumnya, walau tdk cantik tp aku akui msh terlihat lebih muda dari umurnya. Dan sebenarnya selama ini terkadang darah mudaku sesekali melirik tubuh bawahnya yg msh kencang dan bahenol walau pikiran kotorku tdk melangkah lebih jauh. Dan tadi malam, aku dan beberapa temanku sempat iseng nonton film blue sambil makan sate kambing dari warung makan Pak Kirun di ujung desa.
Pagi ini terasa akumulasinya. Tiba2 aku ingin merasakan hangatnya tubuh wanita! Dan wanita didepanku ini tiba2 seperti sepiring makanan hangat ditengah rasa lapar birahiku. Aku mempertimbangkan utk memberinya pinjaman dengan syarat yg berat.
“Okay Mbak, mbak inget kan sdh brp yg mbak pinjem dari saya, dengan potongan kecil dari gaji mbak selama ini bisa dihitung sampai tahun depanpun belum tentu lunas..”Ujarku
“Mbak paham den, tp mbak janji ini yg terakhir, mbak sdh kapok dan menyesal ..mbak bener2 minta bantuan yg terakhir dari den Agus,mbak janji akan cari jalan utk ngelunasi utang dgn cepet”jawabnya sambil terisak.
” Trus apa yg bisa pegang dari janji mbak?”
“Saya msh ada sisa simpanan kalung emas ibu saya, den agus bisa pegang utk jaminan ”
” Waah..saya gak tega mbak, lagian itu kan punya ibunya mbak, saya gak bisa terima .”
” Gini aja, saya ngajuin syarat ..”
“Apapun syaratnya pasti saya kerjakan Den..”Ujarnya dengan penuh harap.
” Aku yakin buat mbak ini berat, saya gak yakin” jawabanku dgn diplomatis.
” Sebutin aja den, saya pasti bisa ..”
” Yakin ? ” Tanyaku kembali.
” Yakin den..mbak sdh banyak hutang budi sm den Agus, apalagi yg gak bisa saya kerjain ..”
” Okay, mbak paham kan saya laki2..masih muda..dan tempat ini jauh dari mana2..”
” Paham, tp apa maksudnya Den..”
“Sekarang mbak mandi. Itu ada handuk saya yg blum dipake di bakul biru..”
“Nggih, trus Den..? ” Tanya mbak Juminten dengan heran.
” Mbak masuk kamar saya dengan hanya pakai handuk tadi, dan tunggu saya di kamar.. ”
“Nggih, mbak trus disuruh apa Den..” Jawabnya dengan suara terlihat cemas.
“Mbak temenin saya di ranjang..pahamkan maksud saya ?itu aja syaratnya..” Jawabku dengan jantung berdebar.
Mbak Juminten terlihat shock dan sperti kehabisan kata2. Sejenak dia menatapku dan menunduk.Ruang tengah itu sesaat hening, hingga 2 menit kemudian dia bicara.
“Mbak sudah tua Den, apa yg den agus mau cari dari saya, cuma perempuan kampung,jelek dan gemuk gini.”
“Yaa saya bisa jawab panjang lebar, tp sekali lagi itu syaratnya, klo mbak bisa ngejalaninya monggo,klo gak bisa yaa maaf yah mbak.”
“Mbak takut den, malu jg iya, takut orang tau ..”
” Ini hari minggu mbak, teman2 saya pada ke kota, siapa yg mau liat kita di sini.”
“Lagian jg saya tau cara yg aman, tp terserah sih, ini jg kalo mau mbak..”
“Paham den, tp liat lah mbak ini cm perempuan sperti ini, aden muda, ganteng bisa cari perempuan muda yg cantik..”Jawabnya dengan masih menunduk.
“Mbak yg saya inginkan pagi ini cuma sex, sekedar pelampiasan nafsu, yah pokoknya klo mau nerima syarat saya …”Kalimatku menggantung, aku sengaja utk meneror pikiranya.Hasratku makin menggebu, kejantananku tanpa komando berdiri keras, terbayang apa yg akan terjadi di kamar nanti.Setelah beberapa menit termenung akhirnya mbak Juminten menjawab.
“Baiklah Den, mbak sebenarnya takut, malu, segala macem, cuma karena bener2 kepepet..mbak turuti syaratnya den agus, tapi mohon jgn ada yg tau den, dan ini jgn berlanjut..mbak takut ..”
“Okay, saya turutin mbak”.
Mbak Juminten berlalu ke belakang utk mandi, aku masih duduk diruang tamu sambil merokok. Ada rasa gundah aku akan melakukan hal buruk ini, setidaknya aku kasihan juga dgn mbak Juminten. Ingin menarik balik apa yg aku katakan pada beliau ini, tp libidoku seperti meledak2, aku tidak kuasa menahan. Lima menit berlalu, pikiranku makin tak karuan. Sedetik kemudian mbak Juminten berlalu didepanku tanpa bicara menuju kamar, rambutnya msh terlihat basah, dan lilitan handuk ditubuh chubby itu menambah gairah. Sungguh,pinggul dan bongkahan pantat indah itu ternyata terlewatkan dari perhatianku selama ini.
Jantungku makin berdetak kencang ketika aku membuka pintu kamar sesaat kemudian. Mbak Juminten duduk membelakangi dipinggir ranjang menatap keluar jendela.Ruangan senyap, langkah kakiku terdengar jelas ketika mendekatinya.
“Mbak sdh siapp ?” Tanyaku berbasa basi.
“Nggih den..” Jawab mbak Juminten seraya tanganya masih berusaha menutup belahan buah dada yg lumayan besar itu.
” Sebelumnya saya mohon maaf, usia mbak hampir dua kali lipat usia saya,harusnya saya menghormati mbak dengan baik..”Ujarku.
” Mbak paham den..” Jawabnya dgn lirih, terasa sekali kalau beliau ini tercekam.
Kemudian aku duduk di sampingnya, tubuhnya wangi sabun, aku memegang pundak kirinya. Sedetik kemudian aku mulai menciumi leher dan bahu dan bagian atas dadanya. Kemudian aku membawanya berdiri menghadap meja di samping ranjang. Aku menciumi belakang bahunya, kemudian perlahan melepas lilitan handuk.Dari belakang tubuh setengah telanjang mbak Juminten masih terlihat bagus. Meski tidak putih tp kulitnya bersih, ada sedikit tonjolan lemak dibagian perut bawah, tapi pantatnya membusung indah, dan pinggul lebar itu menjadi rabaanku yg pertama.
Mbak Juminten hanya diam, tubuhnya sesekali bergetar ketika tangan dan ciumanku menjelajahi tubuh belakangnya. Kemudian aku mulai melepas bra lusuh itu, meraba dan sedikit memeras payudaranya dari belakang. Mbak Juminten msh membisu, dia sangat pasif dan menerima apapun yg akan terjadi dengan gelisah.Setelah puas memainkan buah dadanya aku mulai menarik turun celana dalamnya.
Mbak Juminten sedikit tercekat ketika lidahku bermain2 dibongkahan pantat itu. Aroma vagina itu sedikit tercium ketika lidahku menggerayangi bagian bawah pantatnya, setidaknya dia mulai terangsang.Aku makin terbakar, buru2 aku melepas kaos dan celana pendekku. Didepanku mbak Juminten sedikit menungging dengan kedua tangan mencengkram kuat pinggiran meja, menanti tindakanku selanjutnya. Kejantananku yg keras dan besar, seperti kayu berdiri kokoh dengan latar belakang pantat besar mbak Juminten yg sedikit terkuak ke atas.
Mbak Juminten tidak bisa menyembunyikan kekagetanya ketika aku menempelkan kemaluanku di belahan pantatnya. Terasa hangat, dan wanita itu gemetar. Kemudian aku menarik tangan kirinya, meletakkan jemari tanganya dibatang kemaluanku, Jari2 itu terasa dingin,Aku tau dia makin terintimidasi, mungkin terbayang beberapa saat lagi benda keras itu akan melumat2 kewanitaanya.
Tanpa membuang waktu, aku melebarkan kedua kakinya, menaikan posisi pantatnya sehingga liang itu mudah di eksplorasi. Sejenak aku mempermainkan pintu vaginanya dgn ujung kemaluanku. Setelah dirasa basah aku mulai bersiap menusuk.
“Maaf yah mbak ..” Ujarku sesaat sebelum aku melakukan penetrasi.
Mbak Juminten tidak menjawab, tetapi meringis ketika secara perlahan kejantananku menerobos masuk. Aku mendiamkanya di dalam beberapa saat. Terasa hangat dan enak. Aku bahkan sempat terpejam beberapa detik. Terasa sedikit terjepit tp ketika dua kali menarik dan ulur mulai terasa lega dan basah.Dari pantulan kaca cermin di meja itu mbak Juminten terlihat meringis dan tampak bekas lelehan air mata di kedua pipinya.Aku makin buas, selanjutnya hentakan2 dipantat itu menimbulkan suara nyaring
“..plok.plok..plok…”
Lima menit berlalu, aku berpikir utk ganti posisi, dan aku menariknya keranjang. Mbak Juminten baring dan aku membuka lebar kedua pahanya,kemudian menahan betis besarnya yg terangkat di kedua tanganku.Dengan posisi itu kejantananku mudah menemukan target utk dimasuki dan mulai kembali beroperasi.Di bawahku mbak Juminten makin terlihat gelisah, beliau menggigit bibirnya.
” Den, sdhlah den, mbak takuut..” Lirihnya dari bawah.
Aku tidak memperdulikanya, nafsuku makin berkobar dan ingin menggumulinya dengan buas.Sekarang derit ranjang dan bunyi gesekan kemaluan kami memenuhi ruangan. Udara dingin diperkebunan teh itu tidak bisa menahan peluh yg keluar dari tubuh kami. Tujuh menit berlalu diatas ranjangku, sedetik kemudian denyut di dalam kewanitaan mbak Juminten diikuti dengan cairan hangat terasa di ujung kejantananku.
Wanita ini diam-diam  mencapai kelimaks, sesaat dia melirih tertahan, tubuhnya mengejang dan kemudian seperti terkulai. Aku makin panas, hujamanku makin keras dan tidak beraturan, terkadang kepala mbak Juminten membentur halus kepala ranjang ketika hentakanku terlalu keras. Kedua buah dada itu bergoncang2ke sana kemari.
“Jangan dimasukin yaa den, dikeluarin di luar aja ..” Sergah mbak Juminten sperti menyadari aku mendekati klimaks.Aku berhenti sejenak, memperbaiki posisi kami, mengganjal bawah pantatnya dengan bantal tipis dan membuka lebih lebar pahanya. Kemudian aku kembali menghentak2 tubuh bongsor itu, 2 menit berlalu, pertahananku luruh dan ketika puncak kenikmatan itu datang menjelang, buru2 aku menarik kejantananku sambil terpejam.
Raunganku mengisi ruangan, belasan kali sperma itu menyemprot perut, payudara, bahkan mengenai bawah dagu mbak Juminten. Aku merasakan sensasi kepuasan luar biasa pagi itu. Di bawahku mbak Juminten melihatku dgn pasrah dan layu.Peristiwa hari itu membekas dan membuat kami terlihat kikuk ketika bertemu sesekali pada hari2 selanjutnya, ada rasa sesal dan risih . Tapi Sebulan kemudian gairah itu pun berlanjut, meski pada awalnya terkesan aku memperkosanya. Mbak Juminten, wanita paruh baya itu tetap menjadi teman ranjang terhangatku hingga hari ini, ditengah dinginya udara perkebunan teh yg menggigit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar